No announcement available or all announcement expired.

Mengenal medan ibadah haji

  1. DI MAKKAH AL-MUKARRAMAH
  • Mesjidil-Haram, Ka’bah, Muna, Arafah, Muzdalifah

Makkah Al-Mukarramah

Asal mula Makkah adalah Bakkah yang artinya lembah. Pada zaman dahulu Makkah ini adalah suatu lembah yang sangat tandus. Ini terungkap dalam untaian kata Nabi Ibrahiem as ketika berdo’a: “Yaa ALLAH, yaa Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menempatkan sebahagian keluargaku di lembah yang tandus ini, tak ada tanam-tanaman, di sisi rumahMU yang terhormat ini agar mereka mudah melakukan shalat” (QS Ibrahiem 37)

Makkah sebagai pusat pelaksanaan Ibadah Haji, kini setiap tahunnya dikunjungi jutaan Tamu-Tamu ALLAH dari seluruh dunia.

Jama’ah Haji dan siapapun yang bertamu ke rumahNYA akan merasakan aman, tentram dan damai. “Yaa ALLAH, yaa Tuhan kami, jadikanlah negeri ini suatu negeri yang aman, serta jauhkanlah kami dan anak-anak kami dari menyembah berhala.” (QS Ibrahiem 35). Do’a inilah yang dipanjatkan Nabi Ibrahiem as kepada ALLAH SWT untuk keamanan negeri ini. Sementara itu, kebutuhan apapun yang diperlukan jama’ah tamuNYA senantiasa tersedia, termasuk buah-buahan sungguhpun kita tak sempat melihat kebunnya.

Nabi Ibrahiem as yang futurist yang sangat mencintai diri, keluarga, ummatnya dan negeri di mana mereka tinggal senantiasa berdo’a untuk keselamatan dan kebahagiaan semuanya: “Yaa ALLAH, yaa Tuhan kami, jadikanlah hati-hati orang yang datang kepada mereka itu (kasih sayang) dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka akan bersyukur” (Ibrahiem 37). Dan kita wajib mensyukuri ni’mat yang tiada terhingga ini.

Mesjidil-Haram dan Ka’bah

Mesjidil-Haram yang hampir setiap tahunnya diperluas dan menampilkan wajahnya yang semakin indah dan megah adalah sebagai bagian program utama dan istimewa  Kerajaan Saudi Arabia dalam rangka melayani tamu-tamu ALLAH yang mulia. Di Mesjid inilah Tamu-Tamu ALLAH melakukan Shalat, Umrah, Thawaf Ifadhah, I’tikaaf dan Ibadah lainnya. Dan di mesjid ini juga, hendaknya seluruh Jama’ah Tamu ALLAH menghabiskan waktunya  untuk beribadah, munajat, berdzikir dan berdo’a kepada Yang Maha Rahman, Yang Maha Rahiem, selama tinggal di kota Makkah. Shalat satu kali di Mesjid ini sebanding dengan seratus ribu kali shalat di Mesjid lainnya, kecuali di Mesjid Nabawi sama dengan seratus kali.

Di pusat Mesjidil-Haram terdapat Ka’bah sebagai qiblat dari ummat Islam yang dibangun Nabi Ibrahiem as dan Nabi Isma’iel as. Ketika Nabi Ibrahiem as selesai membangun Ka’bah, beliau berdo’a : “Yaa ALLAH, yaa Tuhan kami, terimalah dari kami amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Yaa ALLAH, yaa Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang tunduk patuh kepadaMU dan keturunan kami jadikan juga ummat yang tunduk patuh kepadaMU. Dan tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. Yaa ALLAH, yaa Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan pada mereka ayat-ayatMU dan mengajarkan pada mereka Al-Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Al-Hadits) serta membersihkan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Gagah, Maha Bijaksana” (QS Al-Baqarah 125-129). 

Mina atau Muna

Selama Ibadah Haji, Mina atau Muna, begitu orang Arab menyebutnya, empat atau lima hari Jama’ah Tamu ALLAH tinggal di sana, yaitu ketika Mabit tanggal 8-9 Dzulhijjah, tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

Di Muna inilah tempat Jumrah berada. Jumrah Ulaa, Wustha dan Aqabah. Dan tidak jauh dari tempat Jumrah, terdapat Mesjid bersejarah bernama Mesjid Khaif. Lima belas abad yang lalu, di Mesjid ini terjadi mu’jizat Nabi saw, ketika para shahabat mulai kekurangan air untuk berwudhu. Dengan disaksikan oleh para shahabat, air jernih mengalir dari antara jari-jemari beliau saw. sehingga mereka berwudhu tanpa kekurangan air.

Selain itu, Mina juga adalah Manhar, yakni tempat  pemotongan hewan hadyu, karena sebagaimana sabda Nabi saw, bahwa seluruh Mina adalah Manhar (tempat pemotongan hewan Hadyu)

Mimpi Nabi Ibrahiem as menyembelih anaknya

Setelah mendapat wahyu dalam mimpinya di malam hari, Nabi Ibrahiem as kemudian menyampaikan isi mimpi tersebut kepada anaknya, Isma’iel: “Wahai anakku, aku telah melihat dalam mimpi, sesungguhnya aku akan menyembelihmu, maka pertimbangkanlah, apa yang akan kau putuskan? Ia menjawab: “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan padamu, in syaa ALLAH, kau dapati aku dari golongan orang-orang yang shabar” (QS Ash-Shaffat 102)

Diriwayatkan, bahwa setelah mereka sepakat, merekapun pergi menuju Arafah, lalu ke Muzdalifah kemudian ke Muna. Tak bergeming sedikitpun, ketika syaithan membujuk Nabi Ibrahiem as, istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail, mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa wahyu ALLAH wajib dilaksanakan. Dan diyakininya, bahwa tidaklah semata-mata ALLAH memerintahkan sesuatu, kecuali untuk kebaikan dan keberuntungan. Syaithan gagal membujuk mereka. Perintahpun dilaksanakan. Tapi, ketika mereka berdua sudah berserah diri kepada Yang Maha Pencipta, dan Ibrahiem telah rebahkan Isma’iel atas pipinya, ALLAH SWT berfirman: “Wahai Ibrahiem, sesungguhnya engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpi itu dengan benar. Sesungguhnya begitulah kami membalas orang-orang yang bersabar. Sesungguhnya ini adalah ujian yang nyata beratnya. Dan kami telah menebusnya dengan hewan sembelihan yang besar. Dan kami tinggalkan (do’a) pada golongan orang-orang yang ada sesudahnya (generasi mendatang). Kesejahteraan bagi Ibrahiem. Begitulah kami membalas bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Ssungguhnya ia dari golongan hamba kami yang mu’min” (QS Ash-Shaffat: 102-111)

  • Jabal Nuur dan Gua Hira

Jabal Nuur adalah sebuah gunung di Makkah yang di lembahnya terdapat Gua Hira dimana Rasulullah sawpertama kali menerima wahyu.

Di depan Gua Hira ada halaman yang cukup luas, sehingga   orang yang ingin masuk kedalamnya berjubel di tempat ini. Untuk dapat sampai di Gua Hira, kita harus turun dari puncak Jabal Nuur kira-kira tiga meter ke bawah sebelah      timur. Gua ada di sebelah kanan kita. Kemudian kita melingkar ke selatan hingga berada sebelah barat Gua dan itulah bagian depan Gua Hira. Bisa juga kita lewat lorong sempit di sebelah kanan Gua, datang dari samping belakang menelusuri lorong itu hingga kita berada di halaman Gua Hira.  Di samping kiri belakang Gua Hira ada ventilasi memanjang dari bawah ke atas, namun orang takkan bisa masuk lewat sana. Satu-satunya jalan keluar masuk hanya dari depan Gua.

Gua Hira ini sungguh sangat kekar. Yang mengelilingi gua    ini adalah batu-batuan yang sangat tebal, kokoh, kuat namun    dinding-dindingnya sangat halus.Di sinilah Nabi Muhammad Saw didatangi Malaikat Jibriel as, menerima wahyu yang pertama QS AL-‘ALAQ 1-5, dan semenjak itulah ALLAH SWT menjadikannya sebagai seorang Nabi dan RasulNYA.

  • Jabal dan Gua Tsuur

Di puncak Jabal Tsuur ini terdapat GUA TSUUR, yaitu Gua tempat persembunyian Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar sebelum beliau berhijrah ke Madinah.

Batu-batuan yang besar hampir memenuhi kanan-kiri jalan   yang menuju mulut Gua Tsuur. Orang takkan begitu mudah mendapatkannya, jika tidak menuruni lorong batu-batuan  tersebut.

Bagian depan Gua Tsuur yang menghadap ke sebelah Timur inilah yang pernah ditutupi sarang labah-labah dan   seekor burung mengeram. Dibelakangnya, lurus dari depan kemudian belok kiri sedikit, terdapat lubang keluar. 

Di dalam Gua Tsuur ada ruangan yang cukup aman dapat ditempati tiga atau empat orang. Sebelah barat dari Gua ini ada ventilasi ukuran tidak merata kira-kira 45 x 8 cm yang sekaligus bisa dijadikan tempat mengintai siapapun yang lewat di sana. Di tempat inilah Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar tinggal selama 3 malam dengan dikawal oleh balatentara ALLAH SWT, yakni para Malaikat, sebagaimanadifirmankanNYA dalam QS At-Taubah ayat 40.

  • Tan’iem

Tan’iem adalah sebuah tempat yang berada di luar kota Makkah. Bagi sebahagian penduduk luar  kota Makkah yang terletak diantara Makkah dan Miqat Makani, ada yang berihlal Ihramnya di Tan’iem. Oleh karenanya, pada musim haji, Mesjid Tan’iem yang besar dan indah itu dipenuhi Jama’ah Haji yang sedang mempersiapkan diri dengan pakaian ihramnya untuk memulai ibadah umrah atau hajinya.

Aisyah Ummul-Mu’minien ra pernah melakukan Ihlal Ihramnya dari Tan’iem. Ketika itu Aisyah ra sedang berihram bersama Rasulullah saw., tapi kemudian ia haidh. Perjalanan ibadah  dilanjutkan, hingga masuk  Makkah,  hanya  saja  ia tidak melakukan thawaf sebagaimana  yang  lainnya.  Lalu  Nabisaw    bersabda: “Tunggu, kemudian pergilah ke Tan’iem lalu berihlal ihramlah dari sana”

Syaikh Utsaimin dalam panduan ibadah HAJI, UMRAH DAN   ZIARAH yang diterbitkan Kementrian Agama Islam, Wakaf, Da’wah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabia mengatakan, bahwa memperbanyak umrah setelah menunaikan ibadah haji,   dari Tan’iem atau Ji’ranah, sebagaimana yang dilakukan sebagian jama’ah adalah hal yang tidak ada dasar syari’atnya.

  1. DI MADINAH AL-MUNAWWARAH
  • Mesjid Nabawy

Ziarah ke Mesjid Nabawi adalah ziarah yang paling utama di kota Madinah. Setiap waktu shalat, mesjid ini dipadati para Tamu ALLAH dengan haparan mendapat pahala seribu kali pahala shalat di mesjid lainnya, kecuali di Mesjidil-Haram. Di samping itu para hujjaaj dengan tetap melakukan shalat wajib yang lima waktu di sana, karena ingin juga mendapatkan maghfirah dan rahmatNYA.

Nabi SAW disemayamkan di rumah beliau. Perluasan Mesjid Nabawi ini menjadikan rumah beliau berada dalam Mesjid. Di sampingnya, terdapat kubur shahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddieq dan Amirul-Mu’minien Umar Ibn Al-Khaththab. Kubur yang berada di bawah qubah hijau tersebut dulunya rumah Nabi saw. Diantara rumah beliau dan mimbar terdapat mihrab Nabi SAW. Daerah sekitar ini dinamakan RAUDHAH atau Taman Surga  yang setiap saat penuh sesak dengan Tamu-Tamu ALLAH yang menghabiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepadaNYA.

  • Mesjid Quba

Mesjid Quba ini adalah Mesjid yang sangat bersejarah, mesjid pertama kali yang didirikan Nabi Muhammad Saw ketika beliau singgah di Quba dalam perjalanan Hijrah dari Makkah ke Madinah. Dinamakan Mesjid Quba, dikarenakan mesjid tersebut berada di Quba.

Berkenaan dengan Mesjid Quba ini, di dalam Al-Quran ALLAH SWT

berfirman: “Janganlah kau shalat di Mesjid Dhirar, sungguh Mesjid Quba yang didirikan di atas landasan taqwa dari semenjak dibangun lebih berhaq kau lakukan shalat di sana. Di dalamnya banyak orang yang suka mensucikan diri. Dan ALLAH mencintai orang-orang yang mensucikan diri” (QS : 108)

Tentang keutamaan Mesjid Quba, Rasulullah saw bersabda: “Shalat di Mesjid Quba pahalanya seperti ibadah umrah”  (Diriwayatkan Tirmidzy dan Ibnu Maajah). Dan dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Bahwasanya Rasulullah saw senantiasa berziarah ke Mesjid Quba, berkendaraan atau berjalan kaki”  (Diriwayatkan Muslim)               

Mesjid Qiblatain

Sebelum QS Al-Baqarah:144 ini diturunkan, Ummat Islam melakukan shalatnya menghadap ke Baitil-Maqdis di Palestina, qiblatnya orang Yahudi. Berkatalah orang-orang Yahudi, bahwa Muhammad sudah menjadi Yahudi. Orang Nasharapun berkata, bahwa Muhammad tidak punya syari’at yang tegas. Hingga orang musyrikien pun menyalahkannya, kenapa Muhammad tidak menjadikan Baitullah sebagai qiblatnya yang juga qiblat Nenek Moyang mereka Nabi Ibrahiem as

Berat hati Nabi saw. mendengar apa yang mereka katakan. Beliau minta kepada ALLAH SWT. agar   diberi qiblat tersendiri, qiblatnya qaum Muslimien, bukan qiblat Yahudi ataupun Nashara dan bukan juga qiblat qaum Musyrikien. Maka beliaupun berdo’a : “…….Allaahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnattibaa’ah, wa arinal-baathila baathilan warzuqnaj tinaabah, wa laa taj’alhu multabisan ‘alainaa fanadhilla waj’alnaa lillmuttaqiena imaaman”

ALLAH SWT mengabulkan do’anya, setelah 16 atau 17 bulan beliau berdo’a dengan khusyu. Kemudian turunlah QS Al-Baqarah:144. Semenjak itu para shahabat shalat menghadap ke Baitullah. Di Mesjid Qiblatain inilah para shahabat pernah mengalami shalat menghadap ke dua qiblat, Baitil-Maqdis dan Baitullah. Itulah sebabnya Mesjid ini dinamakan Mesjid Qiblatain. 

  • Bukit Uhud

Karena KETIDAKTAATAN SEBAHAGIAN SHAHABAT kepada perintah Nabi saw untuk tetap bersiaga di atas bukit pertahanan Uhud, akhirnya qaum Musyrikien dapat menaiki bukit tersebut menggantikan posisi mereka, sehingga para shahabat yang sibuk dengan ghanimah saat itu, segera dihujani anak panah pihak musuh. ALLAH Yang Maha Gagah, Yang Maha Bijaksana, akhirnya menyelamatkan utusanNYA.                  

Tercatat, bahwa  dalam perang Uhud ini paman Nabi saw, Hamzah bin Abdil Muthallib gugur sebagai seorang syaahid. Kemudian menurut suatu riwayat, sebanyak 70 orang shahabat yang gugur sebagai syuhada dikebumikan di Uhud ini, sedangkan 3 orang lagi dikebumikan di pekuburan Baqy Madinah.

  • Khandaq

Ketika mendengar khabar bahwa qaum musyrikien Makkah   akan menyerang kota Madinah, seorang shahabat bernama      SALMAN AL-FARISI mengusulkan kepada Nabi saw. untuk menyambutnya di luar kota Madinah dengan cara membuat parit, sehingga tidak mudah mereka memasukinya. Sementara itu di tepi parit sudah dipersiapkan pasukan panah. Melihat kondisi seperti ini, qaum Musyrikien tidak berani masuk. Akhirnya mereka menarik mundur pasukannya, kembali pulang dengan tangan hampa. Parit-parit peninggalannya kini telah menjadi jalan Raya. Dan beberapa pos penjagaan, dijadikan MESJID KHANDAQ dan khusus pos penjagaan Salman Al-Farisi dijadikan MUSHALA SALMAN AL-FARISI.